Bisa membuat seseorang menjadi lebih baik dari sedikit ilmu yang kita ajarkan pasti hal itu akan membawa kebahagiaan tersendiri. Terlebih dalam urusan agama, sedikit saja, hanya hal yang umum yang mudah dimengerti, bukan hal - hal yang yang terlalu mendalam karena nanti justru tidak bisa menyampaikannya dengan baik.
Ya sedikit saja, hanya dengan sedikit kata - kata yang kita ucapkan, mereka yang tersentuh hatinya sedikit demi sedikit bisa berubah. Saya yakin ini tidak hanya karena apa yang diucapkan, hati yang penuh kelembutan lah yang bisa menerima ilmu dengan baik, Dia yang membukakan hati dalam setiap majelis ilmu.
Teruntuk adik - adikku: ketika kalian berubah menjadi lebih baik itu karena ada keinginan di hati kalian untuk berubah, karena Allah menyayangi kalian. Dari yang awalnya tidak bisa menunaikan shalat dengan rutin, lalu kemudian kalian menjadikan shalat itu menjadi sesuatu yang rutin. Dari yang awalnya kalian jarang membuka Al-Qur'an, lalu kalian isi hari - hari kalian dengan menghafal Al-Qur'an, itu menunjukkan kecintaan kalian kepadaNya. Percayalah Dia juga akan mencintai kalian. Ketika kalian diuji, Dia hanya ingin tahu seberapa besar kesabaran kalian dalam mencintaiNya. Percayalah, di setiap langkah Dia selalu ada bersama kalian.
"Dan apabila hamba - hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran" [2:186]
If you can dream it, you can do it! Believe in yourself! Have faith in your abilities! Without a humble but reasonable confidence in your own powers you cannot be successful or happy :) Keep your eyes on stars and your feet on the ground !
Sunday, 12 October 2014
Saturday, 11 October 2014
Disiplin!
Pelajaran yang saya dapat minggu ini, tepatnya tadi malam. Disiplin!
ini nih, jangan pernah meremehkan yang namanya deadline, haha
Alhamdulillah diingatkan sekarang :)
kalau sudah gini kan bisa instropeksi diri. Gara - gara sampainya terlambat jadinya di diskualifikasi kan. Coba kalau sudah di lingkungan kerja, ikut tender misal. Gak kebayang kalau sudah mempersiapkan berkas - berkas, eh cuma gara - gara ngumpulkannya terlambat gak bisa ikut.
Hehe, jadi jera sejera - jera nya deh. mulai sekarang gak mau jadi deadliner lagii.
No, from now!
umumnya kita sebagai mahasiswa meremehkan batas pengumpulan misalnya aja, paper lomba, tugas - tugas, dll. Terus kalau dalam kehidupan sehari - hari contohnya aja masuk kelas, datang rapat, dll. ternyata hal - hal demikian tidak bisa dianggap remeh.
Oke, jadi mulai sekarang harus berusaha 'tepat waktu'. Ingat gimana kecewanya, sudah bayar, sudah ngirim, eh ternyata di diskualifikasi. Salah siapa tidak disiplin?
"Pelajaran emang mahal harganya"
ini nih, jangan pernah meremehkan yang namanya deadline, haha
Alhamdulillah diingatkan sekarang :)
kalau sudah gini kan bisa instropeksi diri. Gara - gara sampainya terlambat jadinya di diskualifikasi kan. Coba kalau sudah di lingkungan kerja, ikut tender misal. Gak kebayang kalau sudah mempersiapkan berkas - berkas, eh cuma gara - gara ngumpulkannya terlambat gak bisa ikut.
Hehe, jadi jera sejera - jera nya deh. mulai sekarang gak mau jadi deadliner lagii.
No, from now!
umumnya kita sebagai mahasiswa meremehkan batas pengumpulan misalnya aja, paper lomba, tugas - tugas, dll. Terus kalau dalam kehidupan sehari - hari contohnya aja masuk kelas, datang rapat, dll. ternyata hal - hal demikian tidak bisa dianggap remeh.
Oke, jadi mulai sekarang harus berusaha 'tepat waktu'. Ingat gimana kecewanya, sudah bayar, sudah ngirim, eh ternyata di diskualifikasi. Salah siapa tidak disiplin?
"Pelajaran emang mahal harganya"
Tuesday, 7 October 2014
5 Aspek Penilaian
Dapat sedikit ilmu sekaligus nasehat dari dosen struktur beton 1 tadi. Singkat tetapi bisa menjadi evaluasi bagi kita nih, sebelum terlambat. Hehe
Ada 5 aspek penilaian dalam dunia kerja yang menunjukkan tingkat kedewasaan atau tingkat kematangan sikap seseorang, yaitu:
1. Pengendalian Diri
Berkaitan dengan cara kita mengendalikan emosi ketika menghadapi suatu persoalan
2. Mudah Beradaptasi
Semangat tinggi merupakan kunci sukses yang memegang peran dominan
4. Integritas
Integritas meliputi Kejujuran, Komitmen
5. Inisiatif
Orang yang banyak melakukan inisiatif mencirikan orang kreatif.
Mau sukses? Ayo kita aplikasikan hal - hal diatas dalam kehidupan kita sehari - hari! :)
Ini ada sedikit info yang saya kutip dari blog lain
sumber: http://ipotes.wordpress.com/
Ada 5 aspek penilaian dalam dunia kerja yang menunjukkan tingkat kedewasaan atau tingkat kematangan sikap seseorang, yaitu:
1. Pengendalian Diri
Berkaitan dengan cara kita mengendalikan emosi ketika menghadapi suatu persoalan
2. Mudah Beradaptasi
Seseorang yang mudah beradaptasi pasti tidak kesulitan ketika menghadapi berbagai situasi yang diakibatkan oleh interaksi dengan orang lain (baik atasan, rekan kerja, maupun bawahan)
3. Semangat BerprestasiSemangat tinggi merupakan kunci sukses yang memegang peran dominan
4. Integritas
Integritas meliputi Kejujuran, Komitmen
5. Inisiatif
Orang yang banyak melakukan inisiatif mencirikan orang kreatif.
Mau sukses? Ayo kita aplikasikan hal - hal diatas dalam kehidupan kita sehari - hari! :)
Ini ada sedikit info yang saya kutip dari blog lain
sumber: http://ipotes.wordpress.com/
Tes Skala Kematangan yang diujikan dalam tes CPNS sesungguhnya adalah
sebuah tes psikologi yang mengukur tingkat kedewasaan (kematangan
sikap) seseorang dalam bertindak terhadap situasi tertentu. Dalam Ilmu
Psikologi, Tes Skala Kematangan merupakan adaptasi dari Maturity Test atau Test of Adultness. Para psikolog yang mengembangkan Maturity Test
ini antara lain Dr.Robert Epstein, seorang psikolog Amerika yang
meraih gelar PhD bidang Psikologi dari Universitas Harvard pada tahun
1981. Epstein adalah profesor dan peneliti psikologi, yang mendirikan Cambridge Center for Behavioral Studies
di Massachusetts Amerika. Epstein juga merupakan peneliti dan Profesor
pada California School of Professional Psychology, sekaligus mengajar
di National University, Boston University, the University of
Massachusetts at Amherst, the University of California San Diego, and
the HAL College of Technology and Design (Japan).
Saturday, 4 October 2014
1st Competition in The University
Hanya ingin retell pengalaman aja sih.
Mestinya ini tulisan untuk di post beberapa bulan yang lalu.
Pengalaman pertama berkompetisi di tingkat universitas.
Berawal dari coba - coba..
Membuat proposal dan menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Tetapi terasa sekali perbedaan kompetisi di sma dan universitas. Bedanya ya kita dituntut untuk lebih 'paham' terhadap apa yang kita tulis. Dasarnya apa, tujuannya apa, prosedurnya gimana, luarannya apa, semua harus jelas. Ada maket atau product yang berkualitas, insyaAllah kesempatan menang diatas 80%.
Dan yang terakhir, 'good presentation'. Itu sangat menentukan wkwk.
Biasanya sih yang terpilih untuk mengikuti final maksimal 10 tim, dan untuk kompetisi kali ini untung aja yang diambil 10. jadi bisa masuk haha. Padahal yakin banget, proposal yang dibikin tidak maksimal sama sekali -.-
Alhamdulillah ada kesempatan buat belajar lebih banyak :)
Pengalaman presentasi di final itu luar biasa sekali, di setiap kompetisi pasti moment ini yang saya nanti - nanti :D
bisa beradu argumen dengan juri, mempertahankan karya yang kita buat, sekaligus menguji pemahaman kita.
1st day
Technical Meeting, disini saya bisa bertemu dengan teman - teman keren dari berbagai wilayah
2nd day
Presentation, moment yang menegangkan dan sekaligus menentukan. Jadi ya mau tidak mau harus menampilkan yang terbaik walau tanpa latihan *eh
Setelah presentasi inilah yang paling menyenangkan, paket field trip. Haha
Jalan - jalan ke Taman Pintar, keliling - keliling Malioboro dengan tour guide yang handal wkwk
3rd day
Seminar Nasional, pengisi seminarnya ada wakil menteri ESDM, Ir. Susilo Siswoutomo.
dan yang terakhir Pengumuman Pemenang.
Berharapnya dapat piala yang dipegang mas imam itu wkwk. Tapi ya, alhamdulillah sudah bisa melangkah sampai sini. Pelajaran berharga yang saya dapat 'lain kali persiapkan segalanya dengan maksimal dan berusaha lebih baik lagi' wkwk. Kalau tim nya mas imam, ada mas satya sama mas rois, mereka sih sudah ikut lomba dimana - mana, dan karyanya memang bisa benar - benar dipertanggung jawabkan. Congrats deh buat mereka!
untuk detail kegiatan selama disana buka aja link ini: http://marssksimist.blogspot.com/
Mestinya ini tulisan untuk di post beberapa bulan yang lalu.
Pengalaman pertama berkompetisi di tingkat universitas.
Berawal dari coba - coba..
Membuat proposal dan menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Tetapi terasa sekali perbedaan kompetisi di sma dan universitas. Bedanya ya kita dituntut untuk lebih 'paham' terhadap apa yang kita tulis. Dasarnya apa, tujuannya apa, prosedurnya gimana, luarannya apa, semua harus jelas. Ada maket atau product yang berkualitas, insyaAllah kesempatan menang diatas 80%.
Dan yang terakhir, 'good presentation'. Itu sangat menentukan wkwk.
Biasanya sih yang terpilih untuk mengikuti final maksimal 10 tim, dan untuk kompetisi kali ini untung aja yang diambil 10. jadi bisa masuk haha. Padahal yakin banget, proposal yang dibikin tidak maksimal sama sekali -.-
Alhamdulillah ada kesempatan buat belajar lebih banyak :)
Pengalaman presentasi di final itu luar biasa sekali, di setiap kompetisi pasti moment ini yang saya nanti - nanti :D
bisa beradu argumen dengan juri, mempertahankan karya yang kita buat, sekaligus menguji pemahaman kita.
1st day
Technical Meeting, disini saya bisa bertemu dengan teman - teman keren dari berbagai wilayah
2nd day
Presentation, moment yang menegangkan dan sekaligus menentukan. Jadi ya mau tidak mau harus menampilkan yang terbaik walau tanpa latihan *eh
-------------
Jadi ceritanya gini, berhubung waktu itu jadwal kuliah padat, tugas - tugas lagi banyak - banyaknya, mengerjakan slide presentasi pun juga tidak bisa optimal, hari H keberangkatan ke Jogja pun masih harus ngebut bikin slide presentasi. Karena masih sibuk bikin slide, latihan presentasi pun terabaikan, saat itu sih mikirnya gini, "presentasi bisa nanti malam aja, setelah technical meeting". Selain lebih leluasa, biar tidak ketahuan peserta lain gitu, semacam strategi lah wkwk.
Eh ternyata kondisi tidak sesuai dengan harapan. Malamnya, ketika mau latihan presentasi, 'blub'. lampu mati. Sepertinya memang sengaja dimatikan -.-. Oke, akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Wkwk.
Untung saja presentasi berjalan dengan lancar. Eh ternyata kondisi tidak sesuai dengan harapan. Malamnya, ketika mau latihan presentasi, 'blub'. lampu mati. Sepertinya memang sengaja dimatikan -.-. Oke, akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Wkwk.
Setelah presentasi inilah yang paling menyenangkan, paket field trip. Haha
Jalan - jalan ke Taman Pintar, keliling - keliling Malioboro dengan tour guide yang handal wkwk
3rd day
Seminar Nasional, pengisi seminarnya ada wakil menteri ESDM, Ir. Susilo Siswoutomo.
dan yang terakhir Pengumuman Pemenang.
Berharapnya dapat piala yang dipegang mas imam itu wkwk. Tapi ya, alhamdulillah sudah bisa melangkah sampai sini. Pelajaran berharga yang saya dapat 'lain kali persiapkan segalanya dengan maksimal dan berusaha lebih baik lagi' wkwk. Kalau tim nya mas imam, ada mas satya sama mas rois, mereka sih sudah ikut lomba dimana - mana, dan karyanya memang bisa benar - benar dipertanggung jawabkan. Congrats deh buat mereka!
untuk detail kegiatan selama disana buka aja link ini: http://marssksimist.blogspot.com/
Friday, 3 October 2014
Dari Hal yang Paling Sederhana
Dari hal yang paling sederhana itulah kepribadian akan terbentuk.
Sedikit cerita yang saya amati hari ini,
Tadi, sewaktu perjalanan pulang ke rumah kedua saya ini, saya melihat anak kecil bersama orang tua dan kakaknya. Anak kecil itu membawa beberapa bungkus makanan dan minuman. Setelah makanan dan minuman itu habis, si anak berkata pada orang tuanya, "ma, ini adik buang disini ya?" *sambil menunjuk sisi jalan
dengan santainya si ibu menjawab, "iya dek, buang saja"
si anak bertanya lagi pada kakaknya, "adik buang disini ya kak?"
dengan tolehan singkat dan tanpa ada rasa kepedulian, si kakak menjawab, "iya"
Saya hanya bisa berkata dalam hati, 'untung bukan adik saya, kalau adik saya pasti sudah saya omeli habis - habisan'
Tidak habis pikir kenapa orang tua tega membiarkan anaknya mengembangkan kebiasaan - kebiasaan buruk. Seandainya setiap jarak 10 meter para orang tua berkata seperti itu kepada anaknya, ada berapa sampah yang akan dihasilkan? Belum lagi, hal itu dibawa oleh si anak hingga ia dewasa. Apa harus menunggu sampai suatu saat si anak bisa menyadari jikalau perbuatan itu salah? Jika demikian, jangan salahkan pemerintah yang tidak bisa mengatasi permasalahan banjir akibat sampah, sampah yang menumpuk di TPA, asap akibat pembakaran sampah, maupun bau tak sedap dimana - mana. Ya itu sudah konsekuensi. Kenapa sebagai orang tua, begitu mudahnya berkata demikian kepada anak - anaknya. Apa itu adalah hal sepele? Menurut saya tidak.
Seperti prinsip - prinsip kejujuran, kepekaan, kesederhanaan, kerja keras, dll. Itu bukan hal sepele. Dari situlah kepribadian seseorang akan terbentuk. Ingat sekali bagaimana orang tua saya mendidik saya, dikatakan keras, iya, memang keras. Tetapi, dari merekalah saya belajar untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.
Sewaktu sd hingga saat ini pun orang tua saya sama sekali tidak pernah menekan saya dalam hal prestasi akademik di sekolah. Tetapi mereka selalu menekankan pada prinsip kejujuran dalam hal apapun. Ya, buat apa belajar, mencari ilmu, kalau ujung - ujungnya hanya berorientasi pada nilai dengan cara yang tidak benar, percuma.
Begitulah, hal - hal prinsip yang harus terus kita pelajari. Mulai berorientasi pada proses, suatu saat kita juga akan berada di posisi sebagai pendidik
Sedikit cerita yang saya amati hari ini,
Tadi, sewaktu perjalanan pulang ke rumah kedua saya ini, saya melihat anak kecil bersama orang tua dan kakaknya. Anak kecil itu membawa beberapa bungkus makanan dan minuman. Setelah makanan dan minuman itu habis, si anak berkata pada orang tuanya, "ma, ini adik buang disini ya?" *sambil menunjuk sisi jalan
dengan santainya si ibu menjawab, "iya dek, buang saja"
si anak bertanya lagi pada kakaknya, "adik buang disini ya kak?"
dengan tolehan singkat dan tanpa ada rasa kepedulian, si kakak menjawab, "iya"
Saya hanya bisa berkata dalam hati, 'untung bukan adik saya, kalau adik saya pasti sudah saya omeli habis - habisan'
Tidak habis pikir kenapa orang tua tega membiarkan anaknya mengembangkan kebiasaan - kebiasaan buruk. Seandainya setiap jarak 10 meter para orang tua berkata seperti itu kepada anaknya, ada berapa sampah yang akan dihasilkan? Belum lagi, hal itu dibawa oleh si anak hingga ia dewasa. Apa harus menunggu sampai suatu saat si anak bisa menyadari jikalau perbuatan itu salah? Jika demikian, jangan salahkan pemerintah yang tidak bisa mengatasi permasalahan banjir akibat sampah, sampah yang menumpuk di TPA, asap akibat pembakaran sampah, maupun bau tak sedap dimana - mana. Ya itu sudah konsekuensi. Kenapa sebagai orang tua, begitu mudahnya berkata demikian kepada anak - anaknya. Apa itu adalah hal sepele? Menurut saya tidak.
Seperti prinsip - prinsip kejujuran, kepekaan, kesederhanaan, kerja keras, dll. Itu bukan hal sepele. Dari situlah kepribadian seseorang akan terbentuk. Ingat sekali bagaimana orang tua saya mendidik saya, dikatakan keras, iya, memang keras. Tetapi, dari merekalah saya belajar untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.
Sewaktu sd hingga saat ini pun orang tua saya sama sekali tidak pernah menekan saya dalam hal prestasi akademik di sekolah. Tetapi mereka selalu menekankan pada prinsip kejujuran dalam hal apapun. Ya, buat apa belajar, mencari ilmu, kalau ujung - ujungnya hanya berorientasi pada nilai dengan cara yang tidak benar, percuma.
Begitulah, hal - hal prinsip yang harus terus kita pelajari. Mulai berorientasi pada proses, suatu saat kita juga akan berada di posisi sebagai pendidik
Subscribe to:
Posts (Atom)